Selama ini kita melihat film bertema pendidikan belum mencapai puncak popularitas dibanding genre film lain. Mungkin hanya Laskar Pelangi yang pernah mendobrak kemapanan film genre drama anak muda yang selalu menguasai daftar film sukses tanah air.
Meski begitu, film bertema pendidikan selalu ditunggu-tunggu. Apalagi yang menceritakan kehidupan sekolah daerah pedalaman nan terpencil. Sebelumnya pasti anda tak asing dengan film ini:
- Di Timur Matahari
- Denias, Senandung di atas awan
- Sokola Rimba
- Atambua 39 Derajat Celcius
- dan banyak lagi.
Nah, kali ini ada film serial terbaru yang punya kemiripan dengan film di atas berjudul : Jembatan Pensil.
Mengambil tempat di Perkampungan Muna, Sulawesi Tenggara, film ini sangat recommended buat pecinta film-film pendidikan. Guru dan pelajar sangat disarankan menonton film inspiratif ini.
Berikut detail film “Jembatan Pensil”:
Sinopsis Film Jembatan Pensil
Empat anak Sekolah Dasar bernama Inal, Aska, Nia dan Ondeng berjuang mencari pendidikan dari guru mereka di sebuah sekolah gratis. Inal dan Ondeng sama-sama memiliki kekurangan fisik dan mental. Inal adalah anak tuna netra, sedangkan Ondeng terbelakang secara mental.
Keterbatasan yang mereka miliki tak pernah sedikitpun melunturkan niat mereka mencari pendidikan. Ondeng, dengan cacat mentalnya, punya bakat menggambar sketsa. Kemampuan ini rutin ia lakukan untuk mengisi hari-harinya.
Seluruh peristiawa hidup ia abadikan lewat sketsa. Termasuk kehidupan ayahnya yang bekerja sebagai nelayan, dan juga jembatan rapuh yang biasa mereka lewati saat bersekolah.
Suatu hari, jembatan rapuh itu akhirnya rubuh saat keempatnya melintas. Musibah ini tak lantas mematahkan semangat mereka bersekolah. Mereka bercita-cita membangun kembali jembatan yang setiap hari mereka lalui itu.
- - -
Nah itulah sekelumit sinopsis film Jembatan Pensil yang tayang bulan September lalu. Intinya, film ini akan mengubah mindset terutama para pelajar di perkotaan tentang sulitnya mengkakses pendidikan.
Saat anak-anak di perkotaan memilih tidak serius dengan pendidikannya, di belahan bumi lain sana, di daerah-daerah pelosok tanah air, banyak anak yang rela menempuh perjalanan berliku untuk menuju sekolahnya. Semoga bermanfaat. .
sinopsis:tanah surga
Setelah meninggalnya istri tercinta, Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965, memutuskan tidak menikah. Ia tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya yang juga menduda, Haris, dan dua cucunya: Salman dan Salina. Hidup di perbatasan Indonesia dan Malaysia merupakan persoalan tersendiri bagi mereka, karena keterbelakangan pembangunan dan ekonomi. Masyarakat perbatasan harus berjuang untuk mempertahankan hidup mereka, termasuk keluarga Hasyim yang tetap tinggal di Indonesia karena loyalitas pada bangsa. Haris mencoba membujuk ayahnya untuk pindah ke Malaysia dengan alasan di sana lebih menjanjikan secara ekonomi dibandingkan tetap tinggal di wilayah Indonesia. Astuti, guru sekolah dasar di kota, datang tanpa direncanakan. Ia mengajar di sekolah yang hampir rubuh karena setahun tidak berfungsi. Tak lama berselang datang pula Dr. Anwar, dokter muda yang datang karena tidak mampu bersaing sebagai dokter professional di kota. Salman dan Salina gembira hatinya karena kedatangan Astuti dan Dr. Anwar. Diam-diam Dr. Anwar menyukai Astuti. Luluhkah hati Hasyim dengan bujukan Haris pindah ke Malaysia? Bagaimana kisah kasih Dr. Anwar dan Astuti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar